Pak Soma adalah seorang petani penggarap. Dia tidak memiliki tanah sendiri. Itu sebabnya dia menawarkan diri untuk menggarap ladang milik pak Demang. Mereka lalu membuat perjanjian bahwa akan membagi hasil panen menjadi dua bagian sama besar. Masing-masing mendapat separuh dari hasil panen.
Selama bertahun-tahun, Pak Demang selalu puas dengan hasil panen yang disetor oleh pak Soma. Hal itu terjadi karena pak Soma adalah seorang petani yang rajin.
Pak Demang sudah berusia tua. Pada suatu hari, beliau meninggal dunia dan mewariskan seluruh hartanya kepada Karmin, anaknya. Karmin sudah lama bekerja dan hidup di kota. Setelah mengurus pemakaman ayahnya, dia berencana kembali ke ke kota. Tapi sebelum itu, dia ingin menemui pak Soma dulu. Dia menganggap bagian yang diterima pak Soma terlalu besar.
“Pak Soma, Bapak saya juga mewariskan ladang kepada saya. Saya tidak berminat menggarap sendiri ladang itu. Apakah Bapak masih bersedia menggarap tanah ini?” tanya Karmin kepada pak Soma.
“Kalau diizinkan, saya bersedia menggarap lagi,” kata pak Soma merendah.
“Saya mengizinkan, dengan syarat isi perjanjiannya harus diubah. Mau tidak?” tanya Karmin.
“Apa yang harus diubah?” tanya pak Soma dengan heran.
“Pada musim panen nanti, apa saja yang tumbuh di atas tanah ini menjadi hak saya. Sedangkan pak Soma boleh mengambil apa saja yang tumbuh di bawah tanah ini. Setuju tidak? Kalau tidak setuju, saya akan menjual tanah itu pada orang lain”ujar Karmin. Pak Soma terkejut mendengar syarat itu. Dia terpaksa menyetujui syarat itu karena tidak mempunyai pilihan lain.
Musim tanam telah tiba. Pak Soma tetap mengerjakan ladang itu dengan tekun. Ketika musim panen tiba, pak Soma menyetor dua pedati yang penuh dengan daun ke rumah Karmin yang ada di kota. Karmin gusar melihat daun-daun yang hanya bisa menjadi makanan kambing itu.
“Apa-apaan ini?! Pak Soma menanam apa? Mengapa saya hanya memperoleh bagian daun sepeti ini?” tanya Karmin marah.
“Nak Karmin, saya menanam kentang. Sesuai perjanjian, nak Karmin mendapat apa saja yang tumbuh di atas tanah, yaitu daun dan batang kentang ini. Terimalah bagian nak Karmin. Saya sudah mengambil bagian saya yang ada di dalam tanah, yaitu umbi kentang,” jawab pak Soma ringan. Karmin tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena dia sendiri yang menetapkan perjanjian itu.
“Kalau begitu, perjanjiannya diubah. Musim tanam berikutnya saya akan mengambil semua yang tumbuh di dalam tanah. Bapak silakan mengambil apa saja yang tumbuh di atas tanah!” ujar Karim geram. Pak Soma setuju lalu pamitan pulang.
Musim panen berikutnya, pak Soma menyetor dua pedati yang sarat dengan akar-akar.
“Apa lagi ini? Mengapa saya hanya mendapat setoran akar tak berguna ini?” kata Karmin kesal.
“Musim ini saya menanam padi. Sesuai perjanjian, maka saya mengambil apa saja yang ada di tumbuh di tanah, yaitu biji padi. Sedangkan nak Karmin mendapatkan apa saja yang tumbuh di bawah tanah yaitu akar-akar padi ini,” jawab pak Soma. Karmin semakin marah, tapi dia tidak bisa mengingkari perjanjian yang dia buat sendiri. Kali ini dia tidak ingin rugi lagi.
“Baiklah. Kalau begitu, saya mengubah isi perjanjian. Pada musim tanam depan, saya akan mengambil apa saja yang tumbuh di atas tanah dan juga yang tumbuh di dalam tanah! Pak Soma hanya boleh mengambil apa saja yang ada di tengah-tengahnya!” kata Karmin dengan penuh kemenangan. Dia merasa kali ini tidak mungkin akan tertipu lagi. Dia sudah membayangkan hasil panen yang akan dia terima nanti.
Pada musim penen berikutnya, pak Soma datang kembali ke rumah Karmin. Dia membawa tiga gerobak hasil panen yang akan disetorkan. Karmin sudah tidak sabar menunggu kedatangan rombongan pak Soma.
“Nak Karmin, syukur pada Tuhan, hasil panen pada musim ini sungguh melimpah. Sesuai perjanjian saya sudah mengambil semua yang ada di bagian tengah. Nah bagian atas dan bagian bawahnya saya setorkan nak Karmin. Silakan diterima,” kata pak Soma sambil membuka topinya.
Karmin merasa girang. Akhirnya dia berhasil mendapat hasil panen yang melimpah. Dia segera memerintahkan pembantunya untuk menurunkan muatan dari pedati itu. Ternyata setoran itu berupa batang-batang pohon jagung. Setelah diperiksa, tidak ada satu pun tongkol jagung yang masih melekat di batang-batang itu.
Karmin hanya bisa memandangi batang-batang jagung sambil mengatupkan gigi-giginya. Dia sebenarnya marah besar, tapi malu untuk melampiaskan secara terang-terangan. Dia merasa terjerat oleh perjanjian yang dia buat sendiri.
Pak Soma rupanya melihat gejolak dalam hati Karmin. Dia menepuk pundak Karmin sambil berkata, “Nak Karmin, selama bertahun-tahun saya dan pak Demang telah mengikat perjanjian yang saling menguntungkan. Kami saling mempercayai. Itu sebabnya saya selalu jujur dalam menyetorkan hasil panen yang menjadi hak pak Demang. Nah, kalau nak Karmin juga mau mempercayai saya, maka saya akan menggarap tanah itu dengan sungguh-sungguh. Percayalah, saya akan jujur pada nak Karmin.”
Hati Karmin tersentuh setelah mendengar ketulusan pak Soma itu. Dia menyesal karena telah berniat yang licik kepada pak Soma. Dia langsung setuju pada usulan pak Soma.
“Nah sebagai tanda perjanjian, maka besok pagi saya akan menyetor separuh panen jagung pada musim ini,” kata pak Soma. Sekali lagi Karmin terharu melihat kebaikan hati pak Soma.
~~Papa’e Kirana








baca ya
Luar biasa, cerita yang tepat untuk di sampaikan kepada anak sekolah minggu..
terima kasih buat postingan ny..